Sekda Kota Bima Tekankan Sinergi Pemerintah, Masyarakat, dan Dunia Usaha dalam Pengurangan Risiko Banjir Perkotaan
Prokopim Kota Bima, 22 Oktober 2026 – Sekretaris Daerah Kota Bima, Drs. H. Muhammad Fakhrunraji, ME, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha sebagai tiga pilar utama dalam meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana, khususnya dalam menghadapi risiko banjir perkotaan.
Hal tersebut disampaikan Sekda Kota Bima dalam kegiatan Pelatihan Peningkatan Partisipasi dan Kapasitas Kesiapsiagaan Bencana dalam Rangka Pengurangan Risiko Banjir Perkotaan melalui National Urban Flood Resilience Project (NUFReP) yang dilaksanakan di Ruma Dinning, Kamis (22/10).
Kegiatan ini turut dihadiri Direktur SUPD II Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Arief Wansyah A., S.STP., secara virtual, Tim Technical and Program Implementation Support (TePIS), Dr. Izzatulsholekha, M.Si., Kepala Dinas PUPR Kota Bima, Sekretaris BAPPEDA Kota Bima, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Bima, Kepala Bidang PPKLH Dinas Lingkungan Hidup Kota Bima dan Kepala Bidang PP dan PKA DPPA Kota Bima, serta Koordinator TePIS NUFReP Kota Bima, Gazali Fathadewang, SP., MP bersama perwakilan seluruh Tim Siaga Bencana Kelurahan se Kota Bima.
Dalam arahannya, Sekda menyampaikan bahwa banjir perkotaan merupakan ancaman bencana yang kerap terjadi, terutama ketika curah hujan tinggi, daerah resapan air berkurang, dan sistem drainase belum berfungsi secara optimal. Kondisi tersebut membutuhkan upaya penanganan yang terencana, terpadu, dan melibatkan seluruh unsur terkait.
Sekda menegaskan bahwa penanggulangan bencana tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah daerah maupun petugas kebencanaan. Diperlukan keterlibatan aktif seluruh elemen melalui tiga pilar utama.
Pertama, pemerintah, yang berperan dalam penyusunan kebijakan, penguatan koordinasi lintas perangkat daerah, penyediaan infrastruktur pendukung, serta peningkatan sistem mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
Kedua, masyarakat, sebagai unsur yang berhadapan langsung dengan risiko bencana di lingkungan masing-masing. Masyarakat perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengenali potensi bahaya, memahami jalur evakuasi, menjaga kebersihan saluran air, mengenali tanda-tanda peringatan dini, serta mengetahui langkah penyelamatan jiwa dan harta benda.
Ketiga, dunia usaha, yang diharapkan turut berkontribusi dalam mendukung upaya pengurangan risiko bencana melalui kepedulian terhadap lingkungan, dukungan sumber daya, serta partisipasi dalam membangun ketahanan wilayah terhadap ancaman banjir.
Menurut Sekda, ketiga pilar tersebut harus berjalan secara sinergis agar upaya pengurangan risiko bencana tidak hanya berorientasi pada penanganan saat bencana terjadi, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan dan kesiapsiagaan sejak dini.
Melalui pelatihan ini, Pemerintah Kota Bima berharap terbangun sinergi dan komunikasi yang lebih kuat antara masyarakat dan pemerintah daerah, meningkatnya pengetahuan serta keterampilan warga dalam melakukan mitigasi mandiri, dan terbentuknya kelompok atau jejaring siaga bencana di lingkungan masyarakat.
Sekda juga mendorong seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh, aktif berdiskusi, serta menerapkan dan menyebarluaskan pengetahuan yang diperoleh kepada keluarga dan masyarakat di lingkungan sekitar.
Pelaksanaan kegiatan melalui program NUFReP ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan perkotaan terhadap risiko banjir melalui peningkatan kapasitas, partisipasi masyarakat, dan koordinasi antarpemangku kepentingan. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, Kota Bima diharapkan semakin siap menghadapi ancaman banjir serta mampu meminimalkan dampak yang ditimbulkan terhadap keselamatan masyarakat, lingkungan, dan aktivitas perkotaan.